Rangkaian Kegiatan GETAR Hari Ke-1 dan 2

Rabu, 30 Mei 2018. Pembukaan GETAR hari pertama oleh Manajer MTs Asih Putera, Ibu Novi Suwandani, S.Pd, pada kesempatan ini pula hadirBapak Ketua Yayasan Asih Putera, Ir. H. Adang Kosasih Ahmad, MM. Agenda kegiatan diawali dengan mendawamkan Asma Alloh (Asmaul Husna).

“Sesunguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.” (HR. Bukhari, no.2736, Muslim, no.2677 dan Ahmad, no.7493).
Keterangan Syekh Abdul Aziz bin Baz megenai makna hadis:
Makna dari ‘menjaga’ adalah dengan menghafalnya, merenungkan maknanya, dan mengamalkan kandungan maknanya…

Anak-anak sangat antusias sekali memperhatikan materi yang di sampaikan oleh Putera Sulung Baginda, S.Pd. dengan tema “Menjadi Remaja Islam Sejati”.

Agenda kegiatan GETAR antara lain, lomba cerdas cermat, buka puasa bersama, sholat tarawih berjamaah, dan diakhiri dengan baksos dan bazar pakaian murah.

 

Tarhib Ramadhan 1439H

Motor Perubahan Itu Bernama Ramadhan

Oleh : Anna Mariana

Ada rona bahagia ketika “tamu” yang membawa banyak “oleh-oleh” spesial datang. Seakan tidak ada ruang dalam logika atau rasa untuk keberatan bahkan menolaknya. Meski harus ada pengorbanan. Terlebih tamu tersebut akan memberikan lebel luar biasa bagi yang menerimanya.

Tamu. ya, kita analogikan seperti itu. Karena pada dasarnya otak manusia dapat dengan mudah menangkap, menerima sesuatu yang dapat digambarkan oleh daya nalar.

Kini kita tengah berhadapan dengan bulan ramadhan. Putaran 12 bulan hijriyah, akhirnya mempertemukan kita dengan bulan ramadhan. Rasulallah SAW bersabda bahwa bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan kasih sayang Allah, bulan ampunan Allah, bulan diturunkannya Al qur’an, bulan pendidikan, bulan ditutupnya pintu neraka, bulan dibelenggunya setan dan masih banyak lagi keistimewaan lainya.

Selasa 15 Mei 2018. Tarhib Ramadhan, menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan.

Jika tamu itu adalah bulan ramadhan, apa yang akan kita lakukan? jika untuk mendapatkan segala kebaikan ramadhan itu harus ditebus dengan pengorbanan yaitu dengan shaum (puasa), apakan kita akan menerimanya?

Lantas mengapa harus dengan shaum? kita analogikan lagi. ketika gelas akan diisi dengan air yg baru, yg lebih segar, yg lebih bermanfaat, tentu saja gelas tersebut harus kosong dahulu bukan? sulit rasanya mendapatkan air yg segar, jika mengisi gelas dengan air yg baru tersebut masih ada air yg lama. air segar diibaratkan dengan didikan atau aturan main selama ramadhan.

Begitupun dengan shaum. Dengan prinsip “kosong = berisi”, shaum melatih jiwa kita untuk menjadi air yg segar. Air yang menjadi manfaat dimanapun berada. Memberi kesejukan. alangkah bahagianya. Akhirat tercapai, dunia terlampaui. Masih keberatan dengan shaum?

Lain halnya jika kita sedih, terbebani, dan sulit untuk tersenyum ketika ramadhan tiba, itu pertanda bahwa iman kita sedang turun. Bersegeralah meminta kepada Allah agar segera dirangkul kembali, dituntun kembali, ditatap kembali, sehingga tidak dibiarkan terlena oleh hawa nafsu.

Pada bulan ramadhan juga kita diajak untuk menikmati keistimewaan Al Quran. Memperbanyak berdialog dengan Al Quran. Bagaimana caranya? jawablah setiap Al Qur’an menceritakan kisah atau kejadian dahulu kini dan yg akan datang. Gunanya agar kita lebih mengimani Al Quran dan menemukan jawaban atas setiap yg kita hadapi. Contoh, ketika kita bertemu dengan ayat yg mengisahkan orang-orang kafir, jawablah di akhir ayat dengan doa agar dijauhkan dari termasuk golongan orang-orang kafir. Ketika bertemu dengan ayat yang menceritakan orang-orang yg beruntung, maka berdoalah agar termasuk didalamnya. Jika bertemu dengan ayat yg menggambarkan surga berharaplah agar nanti kita bisa berada di sana. Pun sebaliknya jika bertemu dengan ayat yg menceritakan neraka, berdoalah dengan agar jangan sampai terjatuh ke sana. Demikianlah Al Quran mengajak kita berdialog. Jadi ketika membaca Al Quran berinteraksilah agar antara kita Al Quran semakin lebih dekat, maka akan didapat banding lurus yaitu merasai keistimewaannya.

Jika Ramadhan membawa segudang “oleh-oleh” untuk dinikmati, mengapa kita masih berboros ria. Sehingga salah kaprah yang terjadi pada kita adalah konsumerisme semakin menjadi.

‘Ala kulli hal, selamat menikmati oleh-oleh dari Allah, melalui Bulan ramadhan. Selamat menjinakkan konsumerisme, dan selamat menjalani pelatihan langsung dari Allah, bersiap-siaplah memperoleh gelar muttaqin yaaa mu’minun…

waahu’alam bi showab.