Pembinan Pengawas Madrasah

Jum’at, 23 November 2018. Guru-guru MTs Asih Putera alhamdulillah pada hari Jumat tanggal 23 November 2018 melaksanakan pembinaan proses pendidikan madrasah dari pengawas MTs Kemenag Kota Cimahi Bapak Drs. H. Maman Wijaya, M.Si.
Kegiatan ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan kompetensi penyiapan administrasi pembelajaran dan meningkatkan etos kerja sebagai pendidik.
Beberapa hal yang disampaikan dalam pembinaan ini diantaranya tentang penekanan terhadap data primer guru yaitu absen harian guru (fingger print) dan pengisian agenda kelas, berikutnya dipaparkan tentang tugas dari guru yang meiputi enam hal sebagai berikut ; (1) Merencanakan perangkat pembelajaran, (2) Melaksanakan pembelajaran, (3) Mengevaluasi pembelajaran, (4) Membimbing siswa, (5) Melatih siswa, (6) Melaksanakan tugas tambahan (piket, walikelas dan program lainnya). (Apip Suhendra, S.Pd.)

Angklung Day

Minggu, 18 November 2018. MTs Asih Putera menjadi salah satu peserta pada perayaan Angklung Day yang diselenggarakan beberapa waktu yang lalu di depan Gedung Sate Bandung.

Alhamdulillah kegiatan Angklung’s Day Ke-9 dalam rangka memperingati 8 tahun dikukuhkannya Angklung sebagai Kekayaan Budaya tak benda asal Indonesia oleh UNESCO yang diselenggarakan oleh KABUMI Universitas Pendidikan Indonesia bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat berjalan sangat meriah. Kegiatan ini dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat Kang Ridwan Kamil. Kegiatan ini telah tercatat pada Record Holders Republic (RHR) Indonesia sebagai penyelenggara “ Bermain Angklung Bersama dengan Grup Angklung Terbanyak (170 grup) dan memainkan angklung selama 30 menit.

Dalam kesempatan kali ini, MTs Asih Putera dapat berpartisipasi dengan mengirimkan tim angklung dengan jumlah personil 35 orang gabungan dari siswa siswi kelas 7 dan 8. Kegiatan ini sangat bermanfaat dalam menunjang pembelajaran siswa di dalam bidang mata pelajaran Seni dan Budaya.

Angklung adalah salah satu alat musik dari daerah pasundan Jawa Barat. Angklung merupakan alat musik yang telah ditetapkan UNESCO pada 18 November 2010 sebagai warisan budaya dunia, musik ensambel yang terbuat dari bambu ini ternyata memiliki manfaat yang lebih dari sekedar alat musik, yaitu memiliki manfaat pada penanaman sikap dan karakter anak.

Hal ini karena sebuah angklung dibuat dengan nada yang berbeda – beda, apabila dimainkan sendiri bunyi angklung tidak terdengar merdu, tetapi jika dimainkan bersama – sama, maka angklung dari nada yang berbeda – beda dapat membentuk harmonisasi yang indah. Dari hal tersebut dapat diambil kesimpulan tentang adanya kerja tim yang solid, kebersamaan, toleransi, kejujuran, damn tanggung jawab, bisa diambil kesimpulan seperti ini karena dalam memainkan bagiannya dan dituntut disiplin dalam mengikuti arahan konduktor dan mempelajari dengan konsentrasi penuh. Selain itu pemanfaatan angklung sebagai pembentukan karakter dapat membentuk individu – individu yang lebih percaya diri, menguatkan kerja tim, juga menyelaraskan hak dan kewajiban untuk menjadikan nada yang indah. (Resya Firmansah)