Pendidikan “Zaman Now”

Rabu, 7 Februari 2018. Jum’at malam, selepas Isya saya dikunjungi oleh beberapa anak muda yang baru pulang dari Bangkok, Thailand. Mereka usai melaksanakan studi banding mengenai pola pendidikan dari negara tersebut. Urai cerita, mereka adalah para mahasiswa dari jurusan pendidikan dengan beragam mata pelajaran. Tidak hanya mereka yang melakukan studi banding ke luar negeri. Beberapa teman mereka melakukan studi banding ke Malaysia, Singapura, beberapa negara di wilayah Asia Tenggara.

Antusiasme diantara kami saling berbalas. Betapa tidak, dalam dunia kampus, kunjungan studi banding ini bukan dalam rangka PPL (Pelaksaan Praktek Lapangan) dan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Hal ini adalah bagian dari mata kulian yang mereka ampu. Bersama dosen pengampu, menurut saya, mereka sedang melakukan Comunication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving dan Creativy and Innovation. Tujuan mereka luar biasa, yaitu keterampilan apa yang diperlu dipersiapkan di abad 21.

Mendidik Sesuai Zamannya
Dalam teori generasi, hingga saat ini dikenal ada 5 generasi, yaitu generasi Baby Boomer ( yang lahir tahun 1946-1964), ada Generasi X ( yang lahir tahun 1965-1980), ada Generasi Y (yang lahir 1981-1994), ada Generasi Z ( yang lahir 1995-2010), generasi ini disebut generasi net atau generasi internet. Mereka adalah generasi yang terlahir dari generasi X dan Y. Mereka dibesarkan di era digital dengan aneka teknonogi yang komplit dan canggih seperti laptop/komputer, hp, i-pads, PDA, MP3 player, BBM, internet dan perangkat canggih lainnya. Mereka sejak kecil sebagian besar sudah diperkenalkan dengan teknologi canggih tersebut, sehingga berpengaruh terhadap perkembangan, perilaku, dan kepribadiannya. Ada juga Generasi Alpha ( yang lahir 2010-2025).

Abad 21 (tahun 2100) digadang-gadang oleh berbagai ahli sosial, merupakan puncak perubahan kondisi manusia. Geliat teknologi yang dibuat oleh Generasi Z dan Alpha, mensinyalir tenaga manusia digantikan mesin yang berbentuk manusia (robot), juga akan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan. Melihat perekonomian di abad 20 -sekarang- sudah tumbuh subur. Setiap orang sudah mulai memiliki usaha. Meski tidak bisa diabaikan, sebagian orang ada yang belum berani membuka usaha, biasanya masih terpola dari sisa Generasi Baby Boomer dan Generasi X.

Isu semakin maju zaman, maka tingkat kompetisi akan semakin tinggi. Bahkan bisa jadi tidak terkendali. Bisa jadi ya, bisa juga tidak. Buktinya pola pendidikan yang kita jalankan saat ini dengan menggunakan kurikulum 2013 yang menitikberatkan pada pembentukkan karakter, mengarah pada pembiasaan Comunication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving dan Creativy and Innovation. Dari pembiasaan komunikasi, kolaborasi (kerjasama), berfikir kritis dan bisa memecahkan masalah, serta tampil kreatif dan dan inovatif, ternyata komunikasi merupakan faktor utama. Bukankah ajaran Islam telah menanamkannya sejak 14 abad yang lalu melalui Qudwah Hasanah dari sosok pemuda Muhammad bin Abdullah, sehingga pola dari pendidikan karakternya bertahan hingga akhir jaman ? Selamat mencoba! (Anna Mariana)