Pentas Seni Mingguan – Kelas 7 D

Rela Mati Demi Menjaga Agama

Pembebasan Soenda Kelapa

Sebuah kisah nyata yang terjadi pada tahun 1522 M sampai 1527 M di Soenda Kelapa. Penjajahan yang dilakukan oleh kerajaan khatolik Portugis terhadap pribumi

Kekayaan sumber daya alam yang melimpah menjadikan bangsa Portugis merampas kekayaan Soenda Kelapa. Mulai dari pertanian, peternakan, hingga kemaritiman Indonesia, sungguh balada bagi masyarakat Soenda Kelapa pada saat itu. Hingga kabar penjajahan Portugispun sampai kepada KH. Sunan Gunung Djati di Cirebon.

Menantu Sunan Gunung Djati dari kesultanan Demak yang bernama Fatahillah datang ke Cirebon untuk menyampaikan berita dan bermusyawarah dengan Sunan tentang didudukinya Soenda Kelapa oleh kerajaan Khatolik Portugis. Sehingga terbentuklah strategi penyerangan dan pasukan yang dibentuk oleh KH. Sunan Gunung Djati beserta santri-santri untuk melawan pasukan Portugis.

Pertempuaran antara pasukan KH. Sunan Gunung Djati dan pasukan Portugispun berlangsung di tanah Soenda Kelapa dengan tidak sedikit nyawa santri-santri dan rakyat berjatuhan dalam melawan tentara Portugis yang menggunakan senjata. Sedangkan alat yang digunakan para santri hanya kayu, golok, dan alat sederhana lain yang mereka miliki.

Allahuakbaaaar……..
Laa ilaaaha illallaaah….
kalimat takbir dan tahlil tidak pernah henti mengalir disetiap lisan yang mengangkat senjata. Hingga pedang terhunus di tubuh komandan Portugis oleh KH Sunan Gunung Djati. Menjadi tanda kemenangan muslim di Soenda Kelapa.

Pada 22 Juni 1527 M Soenda Kelapa berhasil dibebaskan dari penjajah khatolik Portugis. Bertepatan pada tanggal 22 Romadhon 933 H, KH Sunan Gunung Djati mengubah nama Soenda Kelapa menjadi Fatham Mubina yang kembali diartikan pada bahasa kuno penduduk Soenda Kelapa yaitu Jaya Karta.

Sebagai rasa syukur kepada Allah SWT., nama Soenda Kelapa diubah menjadi Jaya Karta dan sekarang kita kenal kota Jaya Karta ini dengan nama JAKARTA (Anita Tri Haryati, S.Sos.)

Kunjungan Pendidikan Kelas 8-Perkebunan Sukawana

Wisata Edukasi CTC Sukawana

Program kelas berjalan memang selalu menjadi kegiatan favorit siswa-siswi MTs Asih Putera. Sudah banyak tempat-tempat edukasi lainnya yang pernah menjadi destinasi program kelas berjalan ini. Seperti halnya kelas berjalan hari ini, Rabu 28 Februari 2018 yang diikuti oleh seluruh siswa kelas 8. Tempat yang menjadi daya tarik untuk dikunjungi kali ini adalah perkebunan teh dan pabrik teh Sukawana. Perkebunan teh Sukawana berada di Karyawangi, Parongpong. Kebun teh Sukawana berada di bawah PTPN VIII, termasuk dalam Bukit Unggul bagian Sukawana. Sebelumnya area ini dikenal dengan nama “pangheotan”. Katanya nama ini berasal dari nama VanHouten, seorang meneer Belanda yang memiliki perkebunan disini.  Sekarang PTPN VIII lebih mengangkat nama Sukawana untuk menyebut daerah perkebunan ini.

Perekebunan dan pabrik teh Sukawana menjadi wisata edukasi yang sangat menarik. Selain menikmati udara yang sejuk didominasi harum teh, kita juga disuguhkan hamparan hijau kebun teh yang indah dan keindahan alam yang begitu asri. Hampir sepanjang perjalanan kita dimanjakan dengan hamparan-hamparan kebun teh yang begitu luas. Meskipun kondisi jalan yang kecil dan berlubang tidak menyurutkan antusias siswa-siswi MTs Asih Putera untuk menggali ilmu dan wawasan lebih banyak tentang teh.

Pihak perkebunan menyambut kedatangan rombongan dengan begitu baik. Seluruh siswa dipandu untuk mengunjungi pabrik pengolahan teh dan dikenalkan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pengolahan teh secara langsung. Proses pengolahan daun teh di Sukawana adalah menggunakan  sistem CTC (Crushing – Tearing – Curling) .  Pertama, siswa diberi penejelasan tentang jenis teh yang layak untuk diolah dan diproduksi. Selanjutnya, siswa diarahkan untuk melihat tempat penampungan semua daun teh yang dusah dipetik untuk proses pelayuan. Kemudian, prosses penggilingan. Pada proses penggilingan akan mengakibatkan memar dan dinding sel pada daun teh menjadi rusak. Cairan sel akan keluar di permukaan daun secara rata. Proses fermentasi ini merupakan dasar terbentuknya mutu teh. Setelah melalui proses penggilingan, proses selanjutnya adalah proses pengeringan. Proses ini bertujuan untuk menghentikan proses fermentasi pada saat seluruh komponen kimia penting dalam daun teh telah secara optimal terbentuk. Proses ini menyebabkan kadar air daun teh turun menjadi 2,5 – 4%. Tahap terakhir adalah proses sortasi dan pengemasan. Pabrik teh ini mengutamakan produksi teh untuk di ekspor ke luar negeri seperti negara-negara di Eropa.

Banyak hal dan ilmu yang kita dapatkan setelah berkunjung ke perkebunan dan pabrik teh ini. Ternyata, teh yang menjadi minuman favorit banyak orang ini melalui proses yang sangat panjang sebelum akhirnya dapat dinikmati orang-orang di pagi hari. (Irene Mutiara Khaeranti, S.Pd.)



Kegiatan Berenang Ikhwan Kelas 7

Rabu, 28 Februari 2018. Kegiatan berenang siswa kelas 7 ikhwan, bertempat di MI Asih Putera Jalan Cibabat Gg. H Mustofa No. 205 Cimahi Tengah

Taklif Pramuka-Menyusun Puzzle